Friday, August 14, 2015

WORLD BREASTFEEDING WEEK 2015

WORLD BREASTFEEDING WEEK 2015

Tanggal 1-7 Agustus setiap tahunnya diperingati sebagai World Breastfeeding Week. Hal ini untuk memperingati Deklarasi Innocenti yang ditandatangani pada Agustus 1990 oleh pembuat kebijakan pemerintah, WHO, UNICEF dan organisasi lain untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung menyusui. Kenapa menyusui saja sampai perlu dibikin peringatan seperti itu? Menyusui merupakan suatu proses alamiah pemberian asupan air susu ibu (ASI) dari ibu kepada bayinya. Meskipun proses alami, ternyata menyusui juga memiliki banyak tantangan sehingga tidak sedikit ibu yang gagal menyusui.
Apa sih pentingnya ASI? ASI mengandung sel hidup, DNA ibu, hormon, enzim aktif, berbagai macam immunoglobulin, faktor pertumbuhan serta zat lainnya yang memiliki komponen struktur yang unik sehingga mustahil untuk dapat ditiru oleh formula. Setiap tetes ASI mengandung kurang lebih 1 juta sel darah putih yang membasmi kuman dan melindungi dari berbagai penyakit infeksi. Selain itu, ASI merupakan sumber nutrisi dan kalori lengkap yang memenuhi 100% kebutuhan bayi 0-6 bulan. Kontak kulit saat menyusui menguatkan ikatan batin antara ibu dan anak. Kasih sayang yang dirasakan dari ibu saat menyusui menjadi dasar dari perkembangan yang hangat pada diri anak terhadap dunia sekelilingnya. Ibu menyusui lebih responsif terhadap bayinya sehingga bayi memiliki tingkat stres yang lebih rendah, yang menghasilkan rasa aman, rasa ingin tahu dan empati yang tinggi.
Tema WBW tahun ini adalah Breastfeeding and Work: Let’s Make it Work. Kenapa tema tahun ini difokuskan pada ibu bekerja? Berdasarkan penelitian, salah satu alasan kegagalan menyusui adalah karena bekerja. Apakah bisa ibu bekerja tapi tetap sukses menyusui? Ibu bekerja juga bisa sukses menyusui dengan manajemen ASIP yang benar. Ibu bekerja wajib rutin memerah setiap 2 jam selama meninggalkan bayinya. ASIP segar bisa bertahan 4-6 jam dalam suhu ruangan, 7 hari dalam penyimpanan kulkas bawah, 2 minggu dalam freezer kulkas 1 pintu, 3 bulan dalam freezer kulkas 2 pintu dan 6 bulan dalam freezer khusus (deep freezer). Manajemen ASIP yang benar akan menjaga nutrisi dalam ASI tetap optimal. Selain itu, pemberian ASIP disarankan tidak menggunakan dot karena mekanisme hisapan pada payudara dan dot jauh berbeda. Melalui botol dan dot, bayi tidak harus suckling melainkan hanya sucking. Sedangkan pada payudara, bayi harus menggunakan lidahnya untuk merangsang keluarnya ASI. Pada botol dan dot, bayi hanya menyedot dan aliran ASIP sudah keluar dengan derasnya. Penggunaan dot menyebabkan bayi menolak menyusu langsung pada payudara (disebut bingung puting) dan menurunkan produksi ASI. Bingung puting dapat terjadi kapan saja selama menggunakan dot, bahkan pada bayi yang besar.
Di Indonesia, ibu bekerja yang menyusui juga dilindungi oleh peraturan perundangan. Misalnya: Peraturan Pemerintah nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif. Pada pasal 30 dijelaskan bahwa pengurus tempat kerja harus mendukung program ASI eksklusif, dengan cara menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi dan kemampuan perusahaan. Pada pasal 34 peraturan yang sama disebutkan bahwa pengurus tempat kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk memberikan ASI kepada bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di tempat kerja.
Peraturan lain yang mendukung ibu bekerja yang menyusui adalah Undang-Undang nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dijelaskan pada pasal 83 yaitu pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja. Pada bagian penjelasan disebutkan bahwa ketersediaan tempat untuk menyusui disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan perusahaan, yang diatur dalam peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama. Pada kenyataannya, masih ada beberapa ibu yang kesulitan memerah ASInya selama bekerja.
Sebenarnya menyusui juga membawa manfaat bagi perusahaan. Penelitian menunjukkan bahwa ibu menyusui lebih jarang absen kerja sebesar 25% dibandingkan dengan ibu yang memberikan susu formula. Hal ini karena bayi yang mendapatkan ASI eksklusif lebih sehat dan jarang sakit sehingga ibu jarang ijin tidak masuk kerja. Penelitian juga menunjukkan bahwa ibu yang menyusui mempunyai prestasi kerja yang meningkat. Manfaat lain bagi perusahaan yaitu menghemat biaya pengobatan bagi bayi ASI eksklusif serta biaya klaim asuransi kesehatan untuk pengobatan bayi sakit karena bayi ASI lebih jarang sakit. Perusahaan yang mendukung ibu menyusui juga akan mendapatkan manfaat lain yaitu karyawan yang lebih loyal dan produktif karena ibu bekerja yang diperbolehkan menyusui biasanya akan berupaya untuk bekerja dengan lebih baik serta mengatur waktu dengan lebih bertanggungjawab. Lebih jauh, perusahaan yang sudah mempunyai kebijakan internal untuk mendukung ibu menyusui akan mendapatkan manfaat turn over rate yang rendah karena ibu paska bersalin tidak akan bimbang lagi untuk terus bekerja setelah masa cuti berakhir. Dukungan perusahaan akan membuat ibu bekerja lebih mantap untuk meneruskan karir tanpa harus mengorbankan buah hatinya.

Andini Yulina Pramono, S.KM., M.ARS.
Konselor Laktasi dan Kepala Divisi Advokasi dan Hukum

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Cabang Jawa Timur

Tuesday, July 28, 2015

Hari Keluarga Internasional

Tanggal 15 Mei ditetapkan United Nations sebagai Hari Keluarga Internasional atau International Day of Families. Tema tahun ini adalah “Men  in Charge? Gender Equality and Children’s Rights in Contemporary Families”. Berbicara mengenai hak anak, United Nations pernah menyelenggarakan Konvensi Hak Anak pada tahun 1989. Pada salah satu pasalnya, yaitu pasal 24, dijelaskan bahwa negara-negara peserta akan menjamin hak anak untuk menikmati status kesehatan tertinggi, yang mana diikuti dengan hak anak untuk mendapatkan pelayanan perawatan kesehatan. Pada ayat 2 pasal yang sama, dijelaskan langkah-langkah yang akan diambil untuk memenuhi hak tersebut. Langkah-langkah tersebut antara lain: (a) untuk memperkecil angka kematian ibu dan bayi; (b) untuk memastikan pengadaan bantuan medis dan perawatan kesehatan yang diperlukan untuk semua anak dengan tekanan pada pengembangan perawatan kesehatan dasar; (c) untuk memberantas penyakit dan kekurangan gizi, termasuk dalam kerangka perawatan kesehatan dasar, melalui antara lain penerapan teknologi yang mudah diperoleh dan melalui pengadaan makanan bergizi yang memadai dan air minum yang bersih dengan mempertimbangkan bahaya-bahaya dan risiko-risiko pencemaran lingkungan; (d) untuk memastikan perawatan kesehatan sebelum dan sesudah melahirkan bagi ibu-ibu; (e) untuk memastikan bahwa semua golongan masyarakat, terutama para orangtua dan anak-anak, diberi informasi, bisa memperoleh pendidikan dan mendapat dukungan dalam penggunaan pengetahuan dasar tentang kesehatan dan gizi anak, manfaat-manfaat dari pemberian air susu ibu, kesehatan dan penyehatan lingkungan dan pencegahan kecelakaan; (f) untuk mengembangkan perawatan kesehatan pencegahan, bimbingan untuk para orangtua dan pendidikan dan pelayanan keluarga berencana.
Air Susu Ibu
Hak anak yang dapat diberikan sejak hari kelahirannya adalah air susu ibu (ASI). Pemberian ASI ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk menurunkan angka kematian bayi baru lahir. Badan Kesehatan Dunia atau WHO mengimbau pemberian ASI saja tanpa tambahan asupan lain sejak lahir hingga bayi berusia 6 bulan, atau yang sering dikenal dengan ASI eksklusif (ASIX). Salah satu cara untuk mensukseskan ASI eksklusif adalah dengan dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) segera setelah bayi dilahirkan selama minimal 60 menit. Ini artinya prosedur IMD dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tempat ibu melakukan persalinan. Beberapa manfaat IMD antara lain: Ibu dan bayi dapat segera melakukan bonding atau proses kelekatan (ayah juga); mendapatkan manfaat kontak kulit pertama antara ibu dan bayi; bayi mendapatkan kolostrum; awal pemantapan kegiatan menyusui; bayi 8x lebih berhasil mendapatkan ASIX; bayi lebih lama mendapatkan ASI (sampai 2 tahun atau lebih); mengurangi angka kematian bayi baru lahir sebanyak 22% dan balita sebanyak 8,8%; pelaksanaan IMD dilanjutkan dengan ASI eksklusif hingga usia 6 bulan, pemberian MPASI rumahan berkualitas sejak usia 6 bulan dan melanjutkan ASI sampai 11 bulan menyelamatkan sekurangnya 27,8% kematian balita di Indonesia; serta mengurangi pengeluaran rumah tangga akibat pembelian susu formula (minimal Rp. 1.400.000,- hingga Rp. 6.700.000,- selama 6 bulan).
Kenapa sih harus ASI? Karena ASI mengandung sel-sel hidup, DNA ibu, hormon, enzim-enzim aktif, berbagai macam immunoglobulin, faktor-faktor pertumbuhan serta zat-zat lainnya yang memiliki komponen struktur yang unik sehingga mustahil untuk dapat ditiru oleh formula (John D. Benson, Ph.D., dan Mark L. Masor, Ph.D., dalam jurnal medik Endocrine Regulations terbitan Maret 1994).
Dukungan Keluarga dan Pemerintah
Pemerintah Indonesia mendukung program ini dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah no. 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. PP ini bagaikan angin segar bagi dunia kesehatan anak. Dengan adanya PP ini, dukungan terhadap ibu menyusui semakin kuat. Dalam PP ini dijelaskan bentuk dukungan pemerintah, kegiatan yang harus dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan, perusahaan, pengelola tempat fasilitas umum dan dukungan keluarga untuk mensukseskan pemberian ASI eksklusif.
Sejalan dengan ilmu laktasi, pemerintah mendukung dengan menetapkan 10 langkah menuju kesuksesan menyusui (10 LMKM) yang wajib diterapkan di semua fasilitas pelayanan kesehatan.
Kembali lagi kaitannya dengan International Day of Families, bagaimana dengan dukungan keluarga? Dukungan keluarga terdekat, terutama suami, sangatlah penting bagi kesuksesan menyusui. Suami sebaiknya juga mengetahui segala hal tentang menyusui, prinsip produksi ASI, hal-hal yang menyebabkan ASI tidak lancar dan sebagainya. Dukungan keluarga bisa didapatkan jika keluarga pun paham mengenai pentingnya ASI. Oleh karena itu, pengetahuan tentang ASI dan menyusui bukan hanya ditujukan bagi para ibu saja.
Di era digital ini, semua informasi bisa didapatkan dengan mudah. Para ayah dapat bergabung di komunitas Ayah ASI. Semua informasi bisa diakses melalui twitter @ID_AyahASI. Untuk mendapatkan ilmu laktasi, seluruh masyarakat dapat memanfaatkan diskusi di forum Facebook Group Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia secara gratis atau mengikuti kelas edukASI AIMI secara langsung. Kelas ini boleh diikuti oleh siapa saja, bahkan yang belum menikah sekalipun. Yang paling baik tentu saja ibu datang bersama ayah, nenek maupun calon pengasuh bayi.
Kembali merujuk pada tema International Day of Families tahun ini, maka jelaslah peran para ayah sangat diharapkan untuk kesuksesan pemberian hak anak yang paling pertama yaitu air susu ibu. Karena sebenarnya 90% kesuksesan menyusui adalah dengan adanya dukungan dari lingkungan sekitar.



Wednesday, June 3, 2015

Implementation of the Baby-friendly Hospital Initiative

Juana Willumsen

Consultant to WHO Department of Nutrition for Health and Development
July 2013
Breastfeeding is an unequalled way of providing ideal food for the healthy growth and development of infants1, providing protection from morbidity and mortality due to infectious diseases2 and chronic diseases later in life.3 Exclusive breastfeeding is recommended, starting within one hour of birth and for the first 6 months of life, with continued breastfeeding to 2 years of age and beyond.However, rates of initiation, exclusive breastfeeding and breastfeeding duration have fallen since the widespread introduction and promotion of breast-milk substitutes.5 Successful breastfeeding depends on a number of factors, including a re-normalisation of breastfeeding as the infant feeding method of choice through antenatal counselling and education and breastfeeding support to prevent and resolve breastfeeding difficulties.
The Baby-friendly Hospital Initiative (BFHI) was launched in 1991 by the World Health Organization (WHO) and the United Nations Children’s Fund (UNICEF)6, in response to the 1990 Innocenti Declaration on the promotion, protection and support of breastfeeding7 and aims to provide health facilities with a framework for addressing practices which have a negative impact on breastfeeding. To achieve BFHI accreditation, health facilities must demonstrate a rate of at least 75% exclusive breastfeeding among mothers at discharge, adherence to the International Code of Marketing Breast-milk Substitutes and successful implementation of the Ten Steps to Successful Breastfeeding, as defined by the joint WHO/UNICEF statement, “Protecting, promoting and supporting breastfeeding: The special role of maternity services”, which state that every facility providing maternity services and care for newborn infants should:
  • Have a written breastfeeding policy that is routinely communicated to all health care staff.
  • Train all health care staff in skills necessary to implement this policy.
  • Inform all pregnant women about the benefits and management of breastfeeding.
  • Help mothers initiate breastfeeding within a half-hour of birth. (Interpreted as: Place babies in skin-to-skin contact with their mothers immediately following birth for at least an hour. Encourage mothers to recognize when their babies are ready to breastfeed and offer help if needed).
  • Show mothers how to breastfeed, and how to maintain lactation even if they should be separated from their infants.
  • Give newborn infants no food or drink other than breast milk unless medically indicated.
  • Practise rooming in - allow mothers and infants to remain together - 24 hours a day.
  • Encourage breastfeeding on demand.
  • Give no artificial teats or pacifiers (also called dummies or soothers) to breastfeeding infants.
  • Foster the establishment of breastfeeding support groups and refer mothers to them on discharge from the hospital or clinic.8
Since BFHI began, more than 152 countries around the world have implemented the initiative.9 BFHI promotes a multi-level, multi-sector approach which, together with legislation regarding statutory maternity leave and protection of the breastfeeding rights of women in the workplace and enforcement of the Code of marketing of breast milk substitutes, is essential to effectively promote, protect and support breastfeeding.6 Monitoring and re-assessment of BFHI facilities are important as the initiative expands.
Although great progress has been made and BFHI has led to increased rates of exclusive breastfeeding reflected in improved health and survival10, there remain countries where BFHI efforts lag behind. The sustainability and scaling up of BFHI requires the integration of breastfeeding-related subjects into the curricula of health workers at all levels.11 Expanding BFHI beyond maternity services into neonatal, paediatric, and the community health services will help contribute to an improved continuity of care and breastfeeding outcomes.
BFHI has been shown to be very effective in increasing breastfeeding initiation, exclusive breastfeeding and breastfeeding duration in many countries, as well as improving mother’s health care experiences and reducing rates of infant abandonment.12 Given the short and long-term benefits of breastfeeding to the infant, mother and society, implementing BFHI – alongside with the other objectives stated in the Global Strategy for Infant and Young Child Feeding - continues to have an important role to play in health services worldwide.

References

Disclaimer

The named authors alone are responsible for the views expressed in this document.

Declarations of interests

Conflict of interest statements were collected from all named authors and no conflicts were identified.

Sunday, May 3, 2015

Akreditasi RS Program Khusus



                                    TATA LAKSANA  AKREDITASI PROGRAM KHUSUS
DASAR :  Keputusan KARS  nomor :  1666/KARS/X/2014 tanggal 1 Oktober  2014, tentang Penetapan
                Status Akreditasi Rumah Sakit, dimana  terdapat program khusus dengan sertifikat
                kelulusan PERDANA.
BAB YANG DI AKREDITASI :SKP,HPK,PPI,KPS.
TINGKAT KELULUSAN :PERDANA ( Sertifikat dengan 1 bintang )
SASARAN :1.RS kelas D Pratama dan kelas  D,dengan  jumlah TT < 100
                   2.RS kelas C  tanpa sub spesialistik,dengan jumlah TT < 100
                   3.RS khusus kelas C tanpa subspesialistik ,dengan jumlah TT < 100
TARGET :  Dengan hanya mengikuti satu kali workshop dan atau bimbingan ,RS sudah siap untuk
                mengikuti akreditasi versi 2012,khusus untuk bab HPK,SKP,PPI,KPS .
TUJUAN  UMUM : Terwujudnya peningkatan mutu dan keselamatan pasien, melalui
                          implementasi standar akreditasi  versi 2012 terutama program khusus yang
                          meliputi Bab SKP, HPK,PPI dan KPS
TUJUAN  KHUSUS :
  1. Meningkatnya pemahaman para praktisi RS terhadap standar akreditasi  versi 2012 terutama program khusus yang meliputi Bab SKP, HPK,PPI dan KPS
  2. Meningkatnya Implementasi oleh  RS terhadap standar akreditasi  versi 2012 terutama program khusus yang meliputi Bab SKP, HPK,PPI dan KPS
  3. Meningkatnya implementasi sasaran  keselamatan pasien di rumah sakit.


JENIS  KEGIATAN :                                                                                                           
  1.         1.Work shop :a.WS KARS ; b.WS Kerja sama; c. WS internal RS
  2.         2.Bimbingan:a.on line; b.site visit
  3.         3. Survei simulasi
  4.         Survei:
  5.        Survei Remedial:

  •              - bila ada capaian skor  60 % - 79 %
  •              - batas 3 bulan(tanggal ditetapkan KARS)
  •              - RS diberi waktu persiapan 2 bulan,-├ábulan ke 6 dilaksanakan survei remedial.
  •              - Bila RS dinyatakan tidak lulus,RS harus survei ulang.

MATERI  : 

  1. Bahan Work shop  standar dan WS dokumen  dari KARS
  2. Peraturan perundangan  /pedoman 2 yang terkait masing 2 bab.
  3. Check list dokumen
  4. Contoh 2 dokumen regulasi (contoh 2 kebijakan, pedoman,panduan, SPO, program,dll)
  5. Format 2 untuk implementasi,berikut contoh 2 nya.
  6. Skenario telusur masing2 bab dengan contoh pertanyaan nya.


Waktu dan jumlah surveior :

  1. Work shop: 2 orang surveior ,satu hari
  2. Bimbingan: 2 orang surveior ,2 hari
  3. Survei: 2 surveior , 2 hari + H -1. Tergantung lokasi dan jadwal pesawat,bisa ditambah H+1                                                                          
PERENCANAAN PERBAIKAN STRATEGIS (PPS ):


  1. Tindak lanjut dari rekomendasi surveior
  2. Kesiapan RS untuk Survei Verifikasi tahun I dan tahun ke II.

 SURVEI VERIFIKASI :

  1. Pada tahun pertama: harus sudah siap dengan tambahan 6 BAB APK, AP, PP, PAB , MPO, MDGs
  2. Pada tahun kedua: harus siap dengan tambahan 5 bab lagi, PMKP, TKP, MFK, PPK, MKI